| Senin, 2009 Juni 08 |
| NIkahan nih |

 Walau udah diperingati oleh film Idiocracy, bahwa nikah dan banyak anak akan membuat generasi mendatang lebih bodoh. Gw akan tetep nikah he..he,dateng ya klo sempet. Klo ga sempet ya doanya juga cukup. |
posted by Prasdianto @ 08:35  |
|
|
|
| Kamis, 2009 Mei 07 |
| Are you smarter than five year old girl? |
 Di angkot pondok labu-cinere yang panas siang itu, gw denger obrolan seorang ibu dan anaknya. “Ayo kita kita maen tebak-tebakan, bunda nanya trus ade jawab ya?”, anaknya nganguk-ngangguk semangat di samping gw.
“pertanyaan pertama nih, binatang apa yang makannya madu?, gw tersenyum sinis, dan berpikir yaah gini aja. Sifat sotoy gw keluar, sambil baca poskota gw jawab aja dalem ati, ya kupu-kupu ato lebah lah. “Beruanggg!!” tu anak dengan semangat caleg untuk jadi anggota DPR langsung teriak. Heehh!!?? Iyaa..yah, gw bego banget, serangga kaya lebah ga makan madu, tapi menghasilkan madu!!. Gile gw kalah sama anak TK, gw langsung konsen sama pertanyaan kedua. Terpaksa cerita ‘nah ini dia’ yang gw ikuti tiap hari di poskota harus mengalah demi hal ini.
“sekarang, binatang apa yang kupingnya panjang?”. Klo mikir jawabannya gajah, berarti otak kita udah diracunin sama Disney dengan dumbo gajah berkuping panjang. Dan percaya ato engga, gw jawab gajah buru-buru di dalam ati sebelum keduluan anak TK yg makin bersemangat. “Kelincii!! Bunda!!” sosor tu anak dengan riang gembira. Gebleg, iya juga ya ko gw makin bego gini ya? Ahh mungkin heat stroke di angkot mempengaruhi kecerdasan gw (alesan yang dibuat-buat).
“Pertanyaan terakhir ya de, hewan apa yang makannya ikan?” .Kali ini harus menang, gw yang penelitiannya di daerah Rawa Danau tau pasti kalo buaya Tomistoma schlegii itu makan ikan. Udah 5 jurnal yang gw baca menegaskan jawaban gw, naaah mau apa lu anak kecil? Emangnya lu pernah baca jurnal ilmiah? “Kuuuucing bunda!!” , ampuuun dah, bener juga. Ngapian juga gw mikir susah2, namanya juga anak kecil ya mikirnya simpel aja. “bunda, lagi donk tebakannya” tu anak kayaknya makin bersemangat mo ngalahin gw. “iya, iya, sekarang hewan apa yang paling cantik?”
Oke..oke fokus sekarang. Dia Cuma anak-kecil, anak kecil. Mikirnya pasti simpel dan domestik. Dia ga baca jurnal, dia ga analisis pertanyaan, dan dia ga mungkin tau hewan-hewan eksotis di empat musim. Dia pasti mikir hewan sekitarnya yang ada di buku gambar anak. Hmm pasti merak ni, ga mungkin yang laen, ato paling engga cendrawasih. “aku…bunda”, “iya anak bunda paling cantik”. Lho..lho gimana sih tadi nanyanya hewan, ampir aja gw protes sama tu ibu. Tapi sekejap otak gw bilang “lah iyalah bego, manusia kan masuk kingdom animalia”. Gw yang kuliah Taksonomi verteberata dipuji pak Ishak Alm. Karena buat penjelasan klade dan pohon filogenetik yang rumit jadi sederhana, malah kedodoran jawab pertanyaan klasifikasi hewan sederhana anak TK.
Gw analisis, otak kita semakin dewasa makin membuat koneksi-koneksi. Neuron kita membuat koneksi ketika kita belajar atau mengalami hal baru. Contohnya gini, klo kita ngapalin nama orang aja, mungkin akan cepet lupa. Karena kita pake Cuma satu neuron. Tapi klo kita inget suasana dan muka orang tersebut, kita akan make banyak neuron. Koneksi akan terbuat, dan memori disimpan lebih lama. Nah karena itu gw gagal menjawab pertanyaan ibu tadi. Otak gw udah sering terpapar banyak hal tentang hewan, yah secara gw orang Biologi. Mulai dari kuliah taksonomi avertebrata, vertebrata, ekologi hewan, evolusi sampe nonton acara-acara dokumenter discovery dan National Geographic. Koneksi di otak gw memperumit masalah yang ada. Gw ga coba cara berpikir sederhana yang memecah masalah menjadi kecil dan menyelesaikannya satu-persatu.
Yang kedua adalah, otak kita bekerja dengan cara yang aneh. Kita hanya menerima informasi parsial atau sebagian dari dunia luar. Ketika kita membaca tulisan di blog ini misalnya, mata kita hanya terfokus pada satu huruf, bukan pada kalimat atau paragraf. Otak kita harus memilah arus informasi yang datang, dan memilihnya untuk dirproses. Mungkin itu yang membuat gw Cuma menangkap kata kunci dan menghubungkannya dengan koneksi yang udah gw buat sebelumnya. Misalnya kata “hewan” dan “madu”, koneksi cerebrum gw mengatakan pasti sesuatu dari filum serangga. Ga kepikir sama sekali beruang, kecuali gw kebanyakan nonton Winne the Pooh. Ketika pertanyaan kedua diajukan, otak gw membuat koneksi dari pengalaman sebelumnya, yaitu beruang pooh tadi, makanya gw jawab Dumbo si gajah terbang. Anak-anak ternyata jenius pada sifat dasarnya, kita aja yang so so membuat koneksi di otak.
“karena ade pinter bunda nanya lagi ya.. sekarang hewan apaa yang…” Ahhhhh I can’t take it anymore…., “ bang kiri bang” langsung gw turun di pom bensin polres cinere, humiliated by preschool girl.
Duh poskotanya ketinggalan lagi di angkot. |
posted by Prasdianto @ 07:10  |
|
|
|
| Sabtu, 2009 April 04 |
| Jejak Langkah, buku ketiga dari tetralogi Buru |

"Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri di mana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung, dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan" -Pramoedya Ananta Toer
Dari dua buku sebelumnya, mungkin Jejak Langkah dinilai agak membosankan untuk sebagian besar pembacanya. Dialog-dialog panjang Minke dengan dirinya sendiri dan berbagai tokoh pergerakan yang mulai dikenalkan Pramudya, memakan hampir 60 persen dari isi buku. Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke. Dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan kekuasaan kolonial. Maka jejak langkah adalah klimaks dari persetereun atau benturan antara pribumi yang diwakili Minke, beserta koran medan priyayinya, dan gubermen Hindia Belanda yang diwakili van Heutsz.
Sedikitnya konflik pribadi yang dihadirkan di buku ini sesuai dengan arah buku ini secara umum. Pramudya membagi sususan keseluruhan cerita menjadi; awal pergerakan secara pribadi dan bagaimana seorang pribadi Pribumi terusik dengan keadaan pribumi di buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Pergerakan secara organisasi dan perlawanan lantang di tunjukan pada buku Jejak Langkah ini. Maka dari itu Jejak langkah memuat sedikit banyak interaksi Minke dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti tergambar dalam adegan2 di buku. Terdapat adegan Minke mengikuti kuliah Dr Wahidin yang mengobarkan semangat pergerakan pada siswa2 kedokteran STOVIA. Serta dialog segitiga antara Mei tokoh pergerakan Tiong hoa di Hindia dan R.A Kartini dan Minke sebagai penerjemahnya. Dialog yang dirasa terlalu panjang mungkin dikarenakan banyak pembaca menduga buku ini akan sama dengan dua buku sebelumnya, yaitu tentang konflik pribadi Minke.
Tapi dengan saratnya muatan tentang fakta sejarah dan dialog-dialog tentang organisasi pergerakan, Pramudya tidak lupa menambahkan cerita pribadi Minke dengan Mei, tokoh baru di Betawi yang merupakan tunangan kawan lamanya Sinkeh yang meninggal di Surabaya, diceritakan di buku sebelumnya. Ada juga kejutan lain dari tokoh-tokoh lama yang hadir kembali dengan peran yang mengejutkan, seperti anak Jean yaitu Mai yang beranjak dewasa. Dari pembacaan saya atas bagian dari Tetralogi Buru ini, saya berpendapat mungkin Pramudya dapat lebih menambahkan detil pada fakta2 sejarah dalam buku ini. Karena dalam buku ini, ia berniat mengupas habis cerita-cerita, fakta dan memberi gambaran senyata-nyatanya pada pembaca mengenai situasi pada jaman pergerakan sebelum dan sekitar berdirinya Boedi Oetomo.
Tidak terlalu banyak karya tulis atau sastra yang menggambarkan era-era kebangkitan bangsa ini. Kita hanya tahu fakta-fakta sejarah kering yang kita baca di pelajaran sejarah sekolah. Seandainya Pramudya diserahkan tugas menulis buku sejarah untuk sekolah tentang era pergerakan, mungkin anak2 muda akan tergugah dengan semangat nasionalime, bukan nasiolisme pemulas bibir seperti penataran P4 atau menghafal butir2 pancasila. Tapi mengingat kondisi Pramudya yang merupakan tahanan politik sewaktu ia membuat karya ini, kekurangan detil pada buku ini bisa menjadi pemakluman. Biarpun begitu, detil pada buku ini tidaklah mengecewakan dan bisa menambah perbendaharaan pengetahuan kita tentang sejarah bangsa indonesia di era awal-awal dan perintis kemerdekaan. Yang menakjubkan lagi adalah kemampuan Pramudya meramu fakta sejarah dan mencampurnya dengan roman sejarah hanya dengan bantuan ingatan dan memorinya semata. Ya semua literatur yang dikumpulkanya hanya diingatnya karena semuanya ditinggal di Jakarta sewaktu ia menjalani peran sebagai tahanan politik di Pulau Buru.
Saya rasa buku ini perlu menjadi bacaan sastra wajib bagi siswa sekolah menengah di seluruh negeri ini. Bukan saja ceritanya yang menarik tapi juga muatan nasionalisme yang seakan membakar hati saya sepanjang membaca seri tetralogi Buru. Jarang ada buku yang bisa membuat saya membaca seperti kesetanan; lupa waktu, lupa makan, lupa turun dari bus dan lupa bayar ongkos bus pula.. seperti kata alm. Soe Hok Gie
"Nasionalisme tidak didapat dari doktrin-doktrin yang dijejalkan di kepala kita, tapi dengan melihat langsung tanah air"
dan dengan membaca buku ini paling tidak kita bisa melihat tanah air di awal kebangkitannya...
Label: Sejarah |
posted by Prasdianto @ 12:10  |
|
|
|
| Rabu, 2009 Maret 25 |
| I'm built with it |
Oh leave the Wise our measures to collate One thing at least is certain, light has weight One thing is certain and the rest debate Light rays, when near the Sun, do not go straight.
-Sir Arthur Eddington-
Suasana aula Cambridge sepi dan tegang, orang2 berkumpul menunggu hasil penelitian yang menentukan bukan saja untuk sains, tapi untuk harga diri bangsa (untuk beberapa orang). Sir Eddington melangkah pasti membawa 2 plate fotografi pemotretan gugus bintang Hyades. Satu diambil di inggris satu diambil di Pulau principe lepas pantai barat Afrika kala gerhana matahari total. "Today we will become the witness of scientific breaktrough gentleman, please be seated" Semua orang memilih tempat duduknya dan beberapa menghentikan pembicaraan mereka dengan kolega di belakang tempat duduknya. Semua mata memandang Sir Eddington memasang dua plate yang akan menentukan nasib ilmuwan pencetus gravitasi hampir 300 tahun yang lalu yang merupakan pujaan bangsa Inggris, Sir Isaac Newton. Hari ini mereka akan menyaksikan, apakah teori yang bertahan selama 300 tahun itu akan tetap bertahan atau gugur oleh perhitungan ilmuwan tak terkenal, anti sosial, bahkan lahir di negara musuh mereka saat itu, Jerman. Ilmuwan itu bernama Albert Einstein. Dua plate yang diambil dari dua lokasi berjauhan dan pada kondisi yang sama tersebut disatukan. Apabila Newton benar, maka foto bintang di dua lokasi tersebut akan sama. Dan sebaliknya jika Einstein dengan perhitungan di khayalannya (Der Gedankexperiment), maka cahaya bintang di Afrika selatan, yang mengalami gerhana matahari, akan dibelokkan. Dan terdapat gap, antara dua titik di foto. "Light bended by gravity??? what kind of nonsense this german scientist proposed?" sebagian ilmuwan Inggris bergumam menunggu Eddington selesai memasang 2 plate itu. Eddington melihat 2 plate yang disatukan. Ia memfokuskan lensa objektif untuk melihat gugus Hyades di samping prominence matahari di kala gerhana. Ia ragu sejenak. Teringat ia akan tulisan di jurnal hariannya di pulau Principe tertanggal 29 may 1919:
The rain stopped about noon and about 1.30 ... we began to get a glimpse of the sun. We had to carry out our photographs in faith. I did not see the eclipse, being too busy changing plates, except for one glance to make sure that it had begun and another half-way through to see how much cloud there was. We took sixteen photographs. They are all good of the sun, showing a very remarkable prominence; but the cloud has interfered with the star images. The last few photographs show a few images which I hope will give us what we need ...
Sambil membetulkan kacamatanya, sekali lagi ia lihat lebih teliti. Ia angkat kepalanya dan berkata: "A gap! Einstein!!" Suasana Aula berusia lebih dari 500 tahun itu senyap. Beberapa menganggukkan kepala, beberapa menatap heran, beberapa berdiri, menghentak dan bergegas ke luar ruangan. Seorang englishman , Eddington, membuktikan teori ilmuwan musuh negaranya yakni seorang Jerman, Einstein, untuk mengkoreksi ilmuwan besar negaranya sendiri, Newton. Banyak orang mengira sains adalah bidang arogan yang hanya berisi orang2 di menara gading. Sering kali saya bertemu orang yang melihat sains sebagai sesuatu yang berat. Well I can't blame them all. Sering juga saya bertemu orang yang mengaku saintis tapi tidak menggunakan logika mereka untuk berpikir (yes!!! creationist, my finger is pointing at you). Saintis atau ilmuwan bukanlah mahasiswa yang lulus dari MIPA saja. Saintis bisa orang2 dari tiap profesi asalkan mereka menggunakan metode sains untuk berpikir mereka. Liat dulu permasalahan, ajukan pertanyaan,buat percobaan atau cari data mengenai jawaban pertanyaan dan tarik kesimpulan. Eddington membuktikan ia merupakan saintis sejati dengan tidak bias. Baik bias dalam hal nasionalime sempit, atau bias mengakui hasil karya Einstein sebagai karyanya sendiri. Sulit memang memisahkan ego manusia dan idealisme saintifik. Saya teringat suatu kata-kata postulat (he..he) yang saya lupa kapan dan dimana membacanya.
postulat pertama "Dokter itu boleh bohong tapi tidak boleh salah" karena kalau pasien mau meninggal besok, dokternya biasanya akan menenangkan. Tapi dokter hampir tidak boleh salah mendiagnosis. postulat kedua "Ilmuwan itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong" hasil data penelitian boleh saja tidak sesuai teori di buku. tapi tampilkan apa adanya dan jangan diubah. Salah data, kurvanya ga bagus atau datanya ngacak? ga ada tuh, justru kesalahan sering membuka penemuan baru. postulat ketiga (mumpung musim caleg) "Politikus itu boleh salah boleh bohong!!" "no offense to some caleg, but reality bites sometimes"
Kembali ke Eddington,Einstein dan Newton. Apakah setelah dibuktikan dengan percobaan, teori gravitasi Newton menjadi tak berguna?. Bisa iya bisa tidak. Pada kondisi normal (consider yourselves about what is a normal condition) teori Newton berlaku, tapi pada kondisi ekstrem, relativitas Einstein merajai. Einstein "hanya" memoles Newton sedikit untuk fenomena yang tak dapat dijelasakan oleh mekanika klasik Newton. Rangkaian pengetahuan sambung menyambung ini, seperti yang dikatakan Stephen Hawking ketika ditanya mengapa ia sangat jenius oleh wartawan, adalah: "because i'm standing on the shoulder of giant" Karena penelitian ilmuwan sebelum masanya, Hawking bisa merumuskan persamaan gravitasi di dalam black hole dan terus menyempurnakan teori Einstein dengan TOE (Theory Of Everything) yang masih dikerjakannya. Setelah pembuktian teori relativitas umum oleh Eddington, Einstein menjadi terkenal di seluruh dunia. Jerman yang baru saja kalah perang dunia pertama, seolah mendapat kebanggan sendiri di tengah kedukaan dan inflasi yang menghebat. Eddington sendiri? seperti juga juga penarik layar untuk pertunjukan, Ia tenggelam dalam nama besar Albert Einstein. Mengapa ia rela membuktikan teori orang lain dan menekan bias pendapatnya sendiri? Ilmuwan yang baik selalu mencari kebenaran pada data eksperimen. Ketika science board Cambridge menanyakan maksud Eddington untuk membuktikan teori seorang Jerman, ia diragukan kesetiaanya pada Inggris raya. Ia ditanya apakah Ia bisa objektif? Eddington berkata; "With my respect Sir, I'm built with it". Label: Sains, Sejarah |
posted by Prasdianto @ 07:14  |
|
|
|
| Minggu, 2009 Februari 08 |
| Hawk and Dove ,and short history "perdamaian" song |

Perdamaian..peeeerdamaaaaian
banyak yang cinta daaamaaai , tapi perang semakin raaamai
Beneran deh bukan karena gw pecinta qosidahan lalu nulis ulasan tentang lagu yang bertahan hampir 10 tahun di puncak tangga lagu qosidahan se nusantara itu (emang ada?). Lirik yang ada di awal tulisan ini emang unik, hampir semua ibu-ibu pengajian hafal baris lirik ini. Bahkan GIGI juga ikut menyayikan lagu ini.
Ketika berangkat ke Depok, gw kebetulan denger lagu ini di kopaja 63. Karena volumenya yang keras dan pecah dari penjual MP3 bajakan di terminal, gw jadi mikir sesuatu. Ada yang menarik disini, dan ada juga kontradiksi dalam lirik tersebut. Gw mikir "iya juga ya?? , klo banyak yang cinta damai kenapa perang tetap ada?". Gw yakin jumlah pacifist atau pecinta damai di dunia lebih banyak dari warmonger atau pecinta perang. Dan kalau negara terbesar di dunia yakni negara Pa'le Sam bersistem demokrasi, maka suara terbanyak yang akan menentukan keputusan bukan?. Tapi kenapa malah negaranya Renee Zelleweger itu (tadinya gw kira dia orang Inggris lho, tapi ternyata orang Amrik. abis di Bridget Jones diary dia tuh... ehh ko malah out of topic gini?) yang hobinya malah perang ke mana2?.
Kopaja masih merayap di daerah Prapanca yang macet, dan gw masih memikirkan paradoks lirik lagu itu. ketika kopaja lewat toko buku Times yang dari luar terlihat jejeran buku2 di raknya, baru pikiran gw terbuka. Melihat buku2 yang di luar jangkauan kantong itu, malah membuat gw inget suatu pelajaran dari kuliah IPH (ilmu perilaku hewan). Tiba-tiba gw inget buku textbook IPH karangan Krebs yang dulu juga gw baca klo berangkat kuliah di kopaja 63. Salah satu babnya membahas antara perilaku menyerang (Hawk behaviour) dan perilaku mengalah (Dove behaviour).
Hawk ataupun Dove ga ada hubungannya dengan hewan aslinya. Bukan berarti Hawk atau Elang selalu dalam posisi menyerang dan dove atau Merpati mengalah. Bahkan pada beberapa kasus, burung merpati pun bisa sangat agresif. Terminologi ini didasarkan pada asumsi manusia pada kedua hewan tersebut. Dalam konflik di satu spesies, kita bisa memilih strategi Hawk atau Dove jika dihadapkan pada lawan kita. Ada matriks yang menjelaskan keunggulan kedua strategi tersebut, tapi terlalu detil kalau dibahas, baca buku aslinya aja ya. Intinya tiap individu akan memilih perilaku yang menguntungkan kesintasan (tuh kan bahasa susah lagi? sintas=survive) hewan tersebut. Ada dua contoh kemungkinan. Bayangin kalau kita ada di tengah2 orang yang sifatnya pengalah (Dove). Maka perilaku Hawk yang agresif akan mendapatkan sumber daya lebih banyak. Kebalikannya jika kita berada di tengah kumpulan orang-orang agresif (Hawk), maka sifat mengalah (Dove) yang kita jalankan akan mendapat keuntungan lebih. Lho ko gitu? klo kasus pertama okelah masuk akal, tapi yang kedua yang aga aneh. Bukannya klo kita sabar di tengah orang2 agresif kita bakal tertindas? Engga juga, kalau orang sekeliling kita maunya berkelahi dan agresif terus, maka energi yang dikeluarkan dan luka yang ditanggung juga akan berdampak negatif dibanding kita bersikap ngalah atau mundur dan mendapat sumber daya lebih sedikit. Dari kedua skenario di atas, maka masuk akal kalau perang semakin ramai seperti kata lirik lagu perdamaian. Walaupun jumlah Dove mendominasi suatu negara, cukup hanya dengan segelintir perilaku Hawk maka seluruh kebijakan bisa diarahkan. Pada perang Vietnam, dari mahasiswa sampe John lennon dengan lagu Imagine nya berkoar anti perang dan pro perdamaian. Tapi kenapa L.B Johnson dan Nixon terus ngirim tiap anak muda ke Vietnam? Ingat sifat Dove yang tidak agresif kan? maka perilaku tersebut akan membuat ia tidak agresif menentang perang. Jika iya, maka akan ada kerancuan yang lebih aneh. Bayangin judul di koran kaya gini "Para pendemo anti perang menyerang pentagon untuk menghentikan perang" aneh kan?. Kasus yang sama terjadi pada konflik Indonesia dan Malingsia (eh Malaysia, sorry my hawk was dominating me for a second). Kenapa walau banyak orang yang setuju kalau kita damai-damai aja sama Malaysia, tapi demo untuk bertindak keras pada negaranya Sidheek bersaudara ini terus ada. Kembali lagi, sikap Hawk akan selalu merajai jika banyak yang bersikap Dove. Konfrontasi dengan Malaysia di jaman Presiden Sukarno juga contoh yang bagus bagaimana perilaku Hawk Sukarno mendominasi dibanding Dove nya Hatta. Tapi seperti juga popok yang selalu diganti, strategi juga harus begitu (analogi yang aneh..). Kesetimbangan Hawk dan Dove terletak pada satu kata: oportunis. Jikalau Dove mayoritas, maka satu Hawk di populasi akan menjadi strategi menguntungkan. Dan jika semua Dove akan berbalik menjadi Hawk, maka strategi Hawk tak lagi menguntungkan. Kehadiran satu Dove akan menguntngkan di situasi all Hawk population ini. Negara yang lelah akan perang akan menghasilkan orang2 yang pacifist,dan kali ini mereka akan lebih terdengar. Contohnya seperti di film Valkyrie, dimana ada percobaan pembunuhan Hitler oleh jendral-jendralnya sendiri. Kopaja udah lepas dari kemacetan di daerah Simatupang, akhirnya ketemu juga jawaban dari paradoks lirik lagu qosidahan yang gw denger di Blok M. "Banyak yang cinta damai (dove), tapi perang semakin ramai (hawk)", jawabannya justru karena perilaku Dove yang mayoritas yang membuat perilaku Hawk mendapat keuntungan. Damn.. lupa kalo ini malam minggu, dimana Margonda udah kaya kawasan Balaraja bubaran buruh pabrik, macet banget. Mikir apa lagi sembari macet? Oh iya yang ngarang ni lagu siapa ya, ampe terkenal gitu dimana2. Kayaknya dulu tahun 90an awal lagu ini muncul di TVRI programa 2. Dan ada perubahan syair dari yang dulu liriknya "bom atom dileeeedakkan" ,trus diganti "bom nuklir dileeeedakkan sekarang ini. Mungkin supaya skala penghancuran akibat perangnya terdengar lebih masif he.he. Ya segitu aja pengetahuan gw tentang sejarah lagu ini, singkat banget. |
posted by Prasdianto @ 08:07  |
|
|
|
| Sabtu, 2009 Januari 17 |
|
"The fear of death follows the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time" -Mark Twain-
Semenjak meledaknya novel Da Vinci Code karya Dan Brown, banyak bermunculan buku sejenis yang alur ceritanya hampir2 sama. Biasanya pada halaman belakang buku terdapat sinopsis yang diawai dengan kata-kata terbunuhnya seorang dan dilanjutkan dengan rahasia yang tersimpan berabad-abad.
Buku The Historian ini saya pikir pada awalnya sama seperti genre buku-buku konspirasi kuno diatas. Hal tersebut berubah ketika saya terhanyut dalam manuskrip2 kuno yang dihadirkan di buku ini. Fakta-fakta sejarah tentang Vlad Tepes dan perseteruannya dengan Sultan Mahmud II sewaktu perang salib menjadi latar belakang yang kuat dari buku ini. Belum lagi ditambah keakuratan lokasi-lokasi terjadinya cerita dalam buku ini. Mulai dari Danau Snagnov di Wallachia sampai dengan pegunungan Pyrennes di perbatasan Spanyol-Prancis, digambarkan secara nyata oleh Elizabeth Kostova.
The Historian mengambil sudut pandang dari 3 orang berbeda. Yang pertama adalah Elizabeth sendiri sebagai narator. Ia menceritakan tentang penemuan buku terkutuk itu. Dilanjutkan oleh narasi ayahnya tentang bagaimana ia mendapat buku tersebut dan hilangnya profesor Rossi yang menjadi pembimbingnya. Narator ketiga, dalam bentuk surat adalah Ibu Elizabeth yaitu Helen yang juga hilang dalam pencarian Dracula. Secara keseluruhan, novel ini bukan termasuk genre Thriller seperti Da Vinci Code atau karya2 Michael Crichton. Tidak terdapat kejutan2 khas novel thriller dan bab-bab pendek yang meningkatkan ketegangan.
Novel ini membahas sejarah dengan detil dan tempo lambat. Pembaca diarahkan pada penelaahan materi-materi sejarah daerah Balkan dan eropa Timur. Belum lagi suguhan tentang suasana perang dingin di negara2 seperti Bulgaria, Hongaria dan tempat tinggal Dracula sendiri Rumania. Tapi hal ini bukan berarti novel ini jatuh pada pembahasan bertele2. Di luar dugaan, novel ini cukup membuat saya bergidik dan merinding membayangkan datangnya Dracula. Bahkan saya takut membayangkan bahwa sehabis saya membaca novel ini saya akan menemukan di atas meja belajar saya buku dengan cukilan kayu bergambar naga. |
posted by Prasdianto @ 09:44  |
|
|
|
| Jumat, 2008 September 05 |
| Immortality |
 Ini ketiga kalinya, gw denger lagu Immortality nya Celine Dion diputar di radio. Kali pertama kira-kira 4 minggu lalu, dan yang kedua sekitar 2 minggu lalu. Waktu dan suasananya selalu sama, menjelang tengah malam dimana gw sedang baca-baca literatur di internet. Dari 4 minggu lalu gw niat menulis sesuatu yang berkaitan dengan lagu ini, tapi selalu ditunda. Mungkin kali ini lebih tergerak untuk menulis.
So this is who I am, And this is all I know, And I must choose to live, For all that I can give, The spark that makes the power grow
Akhir tahun 98 di kapal kayu menuju Pulau Semak Daun jam 5 pagi, gw denger lagu ini pertama kalinya lewat radio transistor gw (belum jamannya MP3). Langit masih gelap, batas langit dengan laut masih kabur, suara Celine Dion bercampur dengan deru mesin kapal. Entah kenapa gw ga memilih tidur di dalam kabin, tapi memilih untuk duduk di halauan kapal berselimut sarung sembari menunggu matahari terbit. Ini pertama kalinya gw pergi ke laut memakai perahu kapal kayu kecil yang digoyang sedikit oleh ombak bisa membuat kita deg-degan. Untungnya suasana dini hari waktu itu laut sedang tenang tidak seperti suasana Jakarta malam sebelumnya.
The spark that makes the power grow And I will stand for my dream if I can, Symbol of my faith in who I am, But you are my only, And I must follow on the road that lies ahead, And I won't let my heart control my head, But you are my only We don't say goodbye, We don't say goodbye, And I know what I've got to be
Jakarta malam sebelumnya berbeda 180 derajat dengan suasana dini hari yang tenang di tengah laut. Malam itu gw duduk di atas atap kapal kayu menunggu cuaca baik untuk pergi ke pulau. Dari radio saku yang gw nyalain gw denger suara reportase tentang demonstrasi di Semanggi yang pecah menjadi kerusuhan. Suara tembakan sesekali terdengar, suara reporter yang terengah-engah berbicara cukup menggambarkan situsi disana waktu itu. Sekali terdengar suara penuh kebencian yang tertangkap oleh mic reporter. "Bunuhh mahasiswaaa komunis!!!, PKI bunuhhh!!" "Allaaahu Akbarrr ..itu..itu pada lari ke kampus Atmajaya!! kejarrr bunuhhh!!" . Gw dan teman-teman Bio 98 yang mendengar siaran itu sama-sama diam. Kita hanya diam membeku, membayangkan apakah ada teman2 yang kita kenal berada disana? bagaimana nasib mereka? berada di tengah PAM Swakarsa bersenjata tajam dan Tentara bersenjata api yang sama2 memburu mahasiswa. Esok harinya di radio yang sama , di sore hari di pinggir pantai pulau semak daun yang terpencil, dilaporkan beberapa mahasiswa meninggal dalam peristiwa semalam . Beberapa dilaporkan hilang, banyak yang mengalami luka sabetan benda tajam oleh massa tak dikenal yang "membela" pemerintahan Habibie (PAM Swakarsa), banyak juga yang babak belur terkena hantaman popor senapan tentara. Kerusuhan yang dalam sejarah kemudian dikenal dengan kerusuhan Semanggi I.
Immor-tality I make my journey through eternity I keep the memory of you and me inside
Mungkin itu yang membuat gw banyak merenung di halauan kapal. Banyak yang terbersit di kepala gw. Untuk gw yang baru menjadi mahasiswa, situasi waktu itu menimbulkan banyak pertanyaan. Mau kemana negeri ini? Apa rezim Suharto yang susah payah diturunkan akan naik lagi? Bagaimana nasib Jakarta sekarang? apakah kejadian bulan Mei terulang lagi? apa ada anak UI atau anak MIPA 98 yang jadi korban kerusuhan semalam? Sedangkan gw dan teman2 Bio 98 sekarang sedang menjauhi Jakarta ke arah utara, menuju tempat terpencil di tengah laut. Terkesan seperti lari dari kenyataan, sedang di belakang kerusuhan sudah di ambang pintu.
Fulfill your destiny, Is there within the child, My storm will never end, My fate is on the wind, The king of hearts, the joker's wild, We don't say goodbye, We don't say goodbye, I'll make them all remember me
Mungkin dorongan masa-masa nekat menjadi mahasiswa baru. Atau rasa bersalah meninggalkan Jakarta pada kejadian Semanggi I. Bisa juga keinginan untuk berpartisipasi dalam kejadian yang merubah negeri ini. Atau mungkin juga rasa ingin pamer di depan mahasiswi2 di kampus. Gw bergabung dengan demonstrasi lanjutan setelah ditolaknya pidato pertanggung jawaban Habibie. Kali ini Habibie sudah turun, apa lagi yang diperjuangkan? negeri ini sudah lelah demonstrasi. Saatnya mahasiswa kembali ke kampus, berkutat dengan UTS (Ujian Tidak Siap) dan UAS (Ujian Agak Siap) atau sibuk bolak-balik ke pembimbing setelah mendapat "surat cinta" dari jurusan masing2 untuk segera menyelesaikan studi atau terkena ancaman DO. Belum selesai..., ada tiran baru yang bercokol. Kali ini berkedok ulama, kali ini menggunakan pendukung fanatiknya yang siap membunuh siapa pun yang beroposisi. Negeri ini tidak boleh jatuh pada fundamentalis yang menghalalkan darah saudara seagamanya demi kepentingannya sendiri. Survey nasional di Kompas waktu itu menunjukan 61,4 % rakyat Indonesia minta Abdurahman Wahid MUNDUR.
Cos I have found a dream that must come true, Every ounce of me must see it through, But you are my only I'm sorry I don't have a role for love to play, Hand over my heart I'll find my way, I will make them give to me
Sekarang tahun 2008, sudah 3 presiden yang diturunkan paksa. Sekilas melihat 10 tahun ke belakang seolah waktu berjalan relatif. Einstein benar berkata bahwa waktu adalah satuan yang relatif. Waktu berjalan lambat ketika menginap di gedung MPR yang dikepung pendukung fanatik Gus Dur, menunggu evakuasi dari Marinir. Waktu berjalan melompat-lompat sewaktu berlari melompat pagar besi kampus Atmajaya dan tunggang langgang di sela-sela selasar RS Cipto dan kampus FKUI menghindari kejaran tentara. Dan waktu berjalan cepat ketika melihat kembali ke tahun 98, terutama di Halauan kapal dini hari di tengah laut. Gw hanya buih dalam riak sejarah, tidak punya andil banyak dalam perputaran sejarah. Bukan seperti Soe Hok Gie dalam demonstrasi angkatan 66. Tidak juga Hatta atau Tan Malaka di angkatan 45. Sesuatu yang tadinya gw inginkan agar tercatat dalam buku sejarah. Tapi paling tidak, gw udah menyelesaikan kuliah dan lulus dengan baik. Lulus dengan IP 3.02 walau ditempuh dalam 6 tahun. Bisa ketemu anak-anak Bio 98 yang udah gw anggap saudara sendiri. Dan bertemu Fany untuk melihat , merencanakan dan mewujudkan masa depan. Mungkin gw tidak menjadi bagian dari sejarah besar negeri ini, tapi gw udah mengukir sejarah kecil diri gw sendiri di negeri ini.
Immor-tality There is a vision and a fire in me I keep the memory of you and me, inside We don't say goodbye We don't say goodbye With all my love for you And what else we may do We don't say, goodbye
Label: Sejarah |
posted by Prasdianto @ 10:21  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: Pras Dianto
Home: Depok, Jabar, Indonesia
About Me:
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|